Pemalang — Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat kembali memicu kekhawatiran publik terkait potensi krisis ekonomi seperti yang pernah terjadi pada tahun 1998. Kondisi ini menjadi perhatian berbagai pihak, termasuk pengamat sosial dan aktivis yang mengingatkan pemerintah agar segera mengambil langkah antisipatif.
Dalam pernyataan yang beredar di media sosial, Jarot menegaskan bahwa pelemahan rupiah tidak boleh dianggap remeh. Menurutnya, pemerintah perlu meningkatkan kewaspadaan dan segera mengambil tindakan sebelum dampak ekonomi semakin meluas dan kembali membebani masyarakat.
“Tahun 1998 menjadi pelajaran penting bagi bangsa ini. Saat itu rupiah anjlok, harga kebutuhan melonjak, pengangguran meningkat, dan kepercayaan rakyat runtuh,” ujarnya.
Poster yang beredar turut mengingatkan berbagai dampak krisis 1998, mulai dari inflasi tinggi, pemutusan hubungan kerja (PHK) massal, hingga gejolak sosial yang berujung pada reformasi nasional.
Sejumlah pengamat ekonomi menilai kondisi ekonomi Indonesia saat ini berbeda dibandingkan dengan situasi tahun 1998 karena fundamental ekonomi dinilai lebih kuat. Namun demikian, tekanan ekonomi global, kenaikan suku bunga Amerika Serikat, serta ketidakpastian geopolitik tetap berpotensi memengaruhi stabilitas nilai tukar rupiah.
Masyarakat diimbau untuk tetap tenang namun tetap waspada terhadap perkembangan ekonomi. Pemerintah pun diharapkan mampu menjaga stabilitas pasar, memperkuat daya beli masyarakat, serta memastikan kebijakan ekonomi berjalan efektif guna mencegah risiko krisis yang lebih dalam.











