Pemalang, 234 News.id – Praktik transaksi obat keras ilegal yang diduga berlangsung rutin setiap malam Minggu berhasil dibongkar aparat Kelurahan Mulyoharjo, Kecamatan Pemalang, Sabtu malam, 6 Juni 2026. Penggerebekan dilakukan di sebuah salon yang berlokasi persis di belakang kantor kelurahan setempat.
Kronologi bermula dari laporan warga yang resah dengan aktivitas mencurigakan di lokasi tersebut. Warga menduga tempat itu kerap dijadikan titik transaksi atau _Cash On Delivery* (COD) obat keras jenis Tramadol dan Hexymer.
Menindaklanjuti informasi itu, jajaran Kelurahan Mulyoharjo melakukan penelusuran. Hasilnya, ditemukan indikasi kuat bahwa salon tersebut memang dijadikan lokasi pertemuan antara penjual dan pembeli obat terlarang.
Tanpa menunggu lama, Lurah Mulyoharjo Sigit Dwi Pamungkas bersama aparat kelurahan langsung bergerak ke lokasi pada Sabtu malam, 6 Juni 2026. Saat penggerebekan berlangsung, petugas mendapati puluhan remaja yang diduga hendak membeli obat keras.
Fakta yang mengejutkan, mayoritas remaja yang diamankan masih berstatus pelajar SMP. Bahkan, petugas menemukan beberapa anak yang masih duduk di bangku sekolah dasar (SD).
Sayangnya, sosok yang diduga sebagai pengedar sudah tidak berada di tempat ketika petugas tiba. Meski begitu, pemeriksaan tetap dilakukan terhadap orang-orang yang datang ke lokasi. Dari pengecekan telepon genggam, aparat menemukan bukti percakapan yang mengarah pada janji transaksi COD obat keras di salon tersebut.
Situasi sempat ricuh saat penggerebekan. Beberapa orang panik dan mencoba kabur lewat gang-gang kecil di sekitar lokasi. Ada pula yang meninggalkan sepeda motornya karena takut tertangkap.
Dalam operasi itu, sekitar 22 orang diamankan dan langsung dibawa ke Polres Pemalang untuk dimintai keterangan lebih lanjut. Usia mereka rata-rata 16–19 tahun dan sebagian besar bukan warga Mulyoharjo. Pemilik salon turut dimintai keterangan terkait penggunaan tempat usahanya untuk aktivitas ilegal tersebut.
Kasus ini memantik keprihatinan publik karena peredaran Tramadol dan Hexymer diduga sudah menyasar anak usia sekolah, termasuk siswa SD. Fenomena ini menjadi alarm keras bagi semua pihak terkait bahaya penyalahgunaan obat keras di kalangan remaja.
Aparat menegaskan akan menelusuri jaringan pengedar hingga ke akarnya. Masyarakat diimbau aktif melapor jika menemukan aktivitas serupa di lingkungan masing-masing agar generasi muda tidak terus menjadi korban penyalahgunaan obat-obatan terlarang.












